Kalo boleh menjawab dari hati yang paling dalam, rasanya lebih baik kalo Indonesia tidak perlu melaksanakan Pemilu di tahun ini, pesta demokrasi, kata sebagian orang. Demokrasi yang mempunyai norma-norma agung penuh jargon: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi dan demokratisasi yang dalam satu dekade ini selalu menjadi keyword dalam perubahan di Indonesia. Walaupun banyak mengandung pengertian yang indah-indah, seperti kemajemukan, partisipasi, kerakyatan, dan lain lain, tetapi tetap saja implementasinya banyak dipengaruhi oleh kepentingan penguasa termasuk persepsi ideologis. Lucunya, walaupun berkonotasi kepada rakyat, tetapi demokrasi lebih memihak kepada elite politik, golongan, penguasa, figur. Siapa banyak uang, bisa jadi caleg, walaupun sangat sangat tidak kapabel, tidak populer, tidak scientific, alias asal bisa membeli massa lewat jargon dan gagasan-gagasan muluk yang sama sekali absurd dan bombastis. Ya, demokrasi di negara kita masih pada taraf jual beli yang tidak demokratis. Ironis. Ditambah massa kita yang sebagian besar juga masih berpegang kepada prinsip materialisme.
Berapa modal untuk membuat partai? berapa modal untuk menjadi caleg? berapa modal untuk kampanye? berapa harga sebuah kursi? belum lagi menjelang pemilu harga sebuah keindahan dan kebersihan kota pun tergadaikan. Yang ada di tepi-tepi jalan adalah foto-foto para caleg dalam ukuran sa-hoh hah yang sangat tidak artistik. Jujur, bagi saya yang ada adalah rasa malu, jika foto kita terpampang besar-besar dengan kualitas cetak yang pas-pasan tanpa sedikitpun nilai artistiknya ditambah dengan pesan seadanya. Berapa juta liter tinta printer atau cat terbuang, berapa ribu kubik kayu penyangga dan bingkai untuk memasang foto, berapa juta lembar plastik ataupun kertas anti air yang digunakan, berapa ton paku yang harus dipakai? Itu hanya untuk baliho/bilboard jelek itu. Belum untuk kaos, slebaran tidak bermutu, dan juga bendera yang desain logonya sama sekali tidak ada yang menarik. Jujur, saya lebih suka logo klub-klub di liga Inggris. Kurang nasionalis? biar saja, kan demokrasi?? Belum lagi cetak kartu suara yang jumlahnya jutaan lembar dan juga kotaknya. Pastinya dengan orientasi proyek, walaupun seindah apa pun tujuannya. Dan semua pengorbanan itu hanya untuk kata: PEMILU. Di pihak para pengusaha percetakan & advertising mungkin ini berkah 5 tahunan. Tapi tidakkah kita sadar, berapa banyak kayu yang dipakai termasuk kertas dan lain-lain itu? Saya tidak mengetahui persis berapa biaya pemilu itu, yang jelas kalo dibuatkan gedung sekolah, dibelikan komputer Pentium III buat anak-anak SD di pedalaman, atau dibangunkan rumah buat para tunawisma, atau sekalian saja untuk membeli alutista buat perang! Duh, kasian para politikus kita, hanya untuk sebuah kursi kadang mengorbankan massanya untuk saling berkelahi, menghasut, curiga, dan saling jegal. Ironisnya dengan dan atas nama nasionalisme, agama, kerakyatan, kebangkitan, kebebasan, atau demokrasi itu sendiri. Dan biasanya dengan enteng, mereka akan jawab “aaah kan 5 tahun sekali?” Kentuut…! Semakin bodoh rasanya kita dibuatnya…karena, setelah semua itu terjadi, rakyat yang diatasnamakan itu tetap saja mencangkul sawah, kesulitan beli minyak tanah, antri beras, kebanjiran, transportasi jelek, makin banyak orang miskin, makin banyak orang bodoh karena mahal kuliah dan kesulitan-kesulitan hidup yang makin bertambah! Ya, kita tidak pernah belajar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar